Jumat, 11 Oktober 2019

Contoh Kritik Estetis Karya Sastra

Sebuah Kritik Estetik dari Novel 99 Cahaya di Langit Eropa
Menyibak Keindahan Tabir Fragmen Sejarah Islam di Tanah Eropa dalam Novel 99 Cahaya di Langit Eropa karya Hanum dan Rangga

    Novel dan fiksi merupakan dua hal yang enggan menjadi dikotomi, keduanya melekat begitu erat sulit untuk dipisahkan. Pendapat demikian menyebabkan orang enggan membaca karya prosa fiksi seperti novel, sebab kurang mengejewantahkan kenyataan menurut mereka yang terbilang agak skeptis dan awam terhadap sastra. Padahal novel merupakan salah satu karya sastra prosa fiksi yang menurut Teew bahwa rekaan yang disajikan di dalam novel atau prosa fiksi bukanlah lawan dari suatu kenyataan tapi membeberkan kenyataan. Hubungan antara kenyataan dan rekaan adalah hubungan yang dialektik. Lebih lanjut dijelaskan, mimesis tidak mungkin tanpa kreasi, tetapi kreasi tidak mungkin tanpa mimesis. Novel 99 Cahaya di Langit Eropa karya Hanum Rais dan Rangga benar-benar merepresentasikan apa yang diutarakan Teew tentang prosa fiksi. Penceritaan tentang Sejarah Islam di Eropa adalah kenyataan yang diestetiskan dengan alat yang dinamakan sastra, sehingga membaca novel ini menjadi bukan sekedar sedang menjalankan ritual pemuasan imaji tetapi juga pemuasan terhadap “nafsu intelektualitas”. 
      Tidak akan ada kesia-siaan dalam membaca setiap bagian karya sastra ini. Pembaca disuguhkan pertama kali dengan sejarah yang disamarkan. Seorang panglima perang yang dirahasiakan namanya disajikan sebagai awal perjalanan menyibak tabir sejarah Islam yang terkubur dalam visualisasi gedung museum di Wina Austria. Pemberian deskripsi tentang seorang panglima yang gagah berani di awal cerita tanpa memberitahu nama dari si panglima adalah taktik jitu menyuburkan “keresahan” pembaca sehingga ingin kembali membaca dan hanyut dalam residual energy sejarah yang menjadi ruh dalam novel ini. Telah banyak pula novel dengan nada konten yang sama yang sudah diterbitkan penerbit Indonesia bahkan sudah ditayangkan pula di dunia perfileman Indonesia. Sebut, saja novel Hijab Traveler karya Asma Nadia dan Assalamu’alaikum Beijing yang juga merupakan karya Asma Nadia. Bila kedua novel tersebut ditulis oleh seorang yang memang memiliki latar belakang sastra, novel 99 Cahaya di Langit Eropa ini ditulis oleh orang yang sama sekali tidak memiliki latar belakang pendidikan sastra. Hanum berlatarbelakang pendidikan dokter gigi, sedangkan Rangga berlatarbelakang ilmu bisnis, hal tersebut menjadikan novel setebal 427 halaman ini mendeskripsikan fragmentasi sejarah Islam dengan cara yang berbeda. Penggambaran perjalanan yang disuguhkan di dalam novel membuat pembaca terbawa untuk mengikuti perjalanan. Rangkaian diksi yang ditulis dengan gaya yang begitu nyastra membuat pembaca hanyut dan seakan sedang berada pada tempat yang dideskripsikan. Perjalanan awal menyibak keindahan sejarah Islam dimulai dari Wina, Ibu Kota Austria. Melalui perjalanan yang dituliskan tersebut ada kekuatan tak kasat mata yang menyebabkan pembaca terhipnotis akan kemegahan yang digambarkan terutama saat menggambarkan bangunan yang dibuat oleh Ratu Maria Theresia yang mashur. Penggambaran tempat pertama yang akan menjadi pintu utama perjalanan tentang sejarah Islam lainnya, sebuah bangunan megah yang merupakan hasil distraksi gengsi seorang Ratu yang takut akan kemasyuharannya yang akan memudar sebab putri bungsunya menikah dengan pangeran Perancis yang memiliki daerah kekuasaan yang sangat terkenal akan keindahan arsitekturnya. Kebangkitan Islam, wujud pengabdian terhadap Islam yang ingin ditekankan dalam sisi paling menonjol novel ini tergolong berhasil membuat pembaca seperti didongengkan oleh nenek sebelum tidur. Sebuah keindahan yang mengalir bersama pemilihan kata yang digunakan. Turki Ottoman dengan kekuasaannya yang membuat Islam begitu Berjaya sangat melekat di hati pembaca. Pun pada penggambaran situs bersejarah Cordoba, Andalusia, tentang sebuah Masjid yang akhirnya menjadi Catedral dan sekarang namanya pun menjadi The Mosque-Qathedral of Cordoba. Visualisasi tempat tersebut dikemas begitu apik sehingga resepsi pembaca benar-benar seperti yang dideskripsikan. Memvisualisasikan rasa untuk diterjemahkan kemudian diresapi pembaca menjadi perasaan yang hinggap di dalam dirinya adalah sebuah tugas yang tidak mudah dilakukan oleh para penulis. Hanum dan Rangga dalam novel ini telah berhasil melakukan hal tersebut, Mustafa Pasha seorang tokoh Turki yang juga adalah Buyut Fatma teman baik Hanum divisualisasikan memiliki wajah yang berbeda dari wajah-wajah lain yang dipajang dalam deretan pajangan lukisan. Elegi yang berusaha ditransfer dalam wajah itu terserap dengan elegan ke dalam sanubari pembaca. Elegi sejarah yang telah menjadi awal pandangan buruk bangsa Eropa terhadap Islam. Hagia Shopia merupakan salah satu fragmentasi sejarah Islam yang juga turut digambarkan dalam novel ini. Hagia Shopia, sebuah bangunan yang dahulu adalah gereja kemudian berubah menjadi masjid dan sekarang telah menjadi museum di Turki. Hagia Shopia melengkapi situs sejarah Islam yang berusaha digambarkan dalam novel ini dalam rangka menigkatkan inteletualitas umat Islam terhadap sejarah peradabannya sendiri. Pemilihan-pemilihan tempat bersejarah yang dituangkan di dalam novel tanpa adanya unsur dramatik berlebihan, tidak ada klimaks yang terlalu membuat pembaca menggigit gigi, semuanya datar namun mengasyikkan. Cara yang sangat elegan untuk menjelaskan sejarah Islam kepada pembaca yang mungkin tidak suka pembelajaran sejarah dalam situasi formal seperti saat sedang membaca buku pelajaran sejarah di sekolah. Apresiasi karya ini dengan membuatnya menjadi film adalah suatu pilihan yang sangat tepat.